Missing Link Antara Pengamatan dan Ide

Sebenarnya jauh sebelum ‘kebulatan tekad’ belajar nulis ini terjadi, aku sudah tergelitik untuk menjajal. Tapi aku mentok pada hal utama: ide.

“Bagaimana seorang penulis mendapat ide?” pastilah pertanyaan yang membosankan yang pernah diterima banyak penulis.

Dan jawaban,

“Ide dari mana saja. Ide ada di mana-mana.”

adalah jawaban yang membosankan yang diterima oleh banyak calon penulis.

Lalu di mana ‘missing link‘nya?

Aku mengalami yang namanya ingin menulis tapi tidak tahu mau menulis apa. Tidak ada ide. Padahal penulis selalu bilang ide ada di mana-mana. Kucoba mengamati dengan sungguh-sungguh segala gerak-gerik anak-anak. Berharap dapat ide untuk dituliskan. Dapat sih, tapi paling banter untuk dituliskan dalam bentuk ‘laporan’. Diotak-atik jadi cerita? Tak terbayang. Mati gaya. Kecurigaanku bahwa jawaban membosankan para penulis dan pertanyaan membosankan para calon penulis adalah benar tapi ada missing link, semakin menguat. Apa sih missing link-nya? Pertanyaan yang tak terjawab juga. Penasaran. Sampai suatu hari…

Dalam perjalanan mengantar Rangga ke sekolah, Rangga bertanya,

“Kok winter-winter gini ada burung berkicau? Kan kalau winter burung pergi ke tempat yang hangat?”

Saat itu aku tak bisa memberi jawaban yang memuaskan. Jadi sampai di rumah aku mulai mencari tahu. Ternyata memang ada burung yang pergi ke tempat hangat dan ada yang tidak. Aku cari lagi lebih detil burung apa saja itu dan bagaimana kebiasaan mereka selama winter. Eh, tiba-tiba terlintas ‘keisengan’ di kepalaku,

“Sedih nggak ya burung-burung itu kalau harus ke tempat yang lebih hangat? Andai antar jenis bisa berkomunikasi dan berteman, apa yang akan terjadi?”

Dan seterusnya seolah saling sahut menyahut. Riuh. Keriuhan ini ternyata tak berhenti ketika aku selesai ‘riset’. Tapi terus hingga berhari-hari. Menghasilkan skenario yang berubah-ubah terus. Aku jadi ingat Masha. Kalau ada soal matematika, Masha sangat sedikit mengotret di kertas. Lebih banyak di kepala. Nah keriuhan di kepalaku yang sahut menyahut mengajukan berbagai pertanyaan dan alternatif serta banyak revisi itu  mungkin seperti proses pengolahan pemecahan soal di kepala Masha itu. Setelah agak matang, barulah siap dikeluarkan. Atau dituliskan.

Setelah peristiwa itu, masih ada beberapa kejadian yang membuat keriuhan di kepalaku. Keriuhan yang terpicu dari kejadian sehari-hari. Sepertinya sekarang aku mulai bisa ‘menangkap’ ide.  Tapi entah kenapa belum juga aku tergerak untuk menuliskannya. Aku masih asyik ‘melamun’ saat mencuci piring, menyetrika, di perjalanan mengantar Rangga. Kadang tiba-tiba aku terjaga dan tidak bisa tidur lagi karena kepalaku langsung riuh.

Pengalaman-pengalaman itulah yang membuatku bisa mulai memahami jawaban para penulis yang membosankan tapi sayang memang demikian adanya itu. Sebuah kemajuan untukku. Sedikit. Karena tautan rantai masih panjang. Ada ide yang ribut berhari-hari di kepala, tak lantas berarti semuanya tinggal menumpahkan dan langsung jadi. Justru seni menumpahkan itulah misteri besar selanjutnya. Satu misteri terungkap, misteri lain sudah menanti. Sedap…:-)

Tapi apa yang membuat tiba-tiba terjadi keriuhan di kepalaku? Mungkinkah karena saat itu aku ada di ‘frekuensi’ yang bisa mengubah pengamatan menjadi persilatan ide? Tapi bagaimana bisa sampai ada di frekuensi itu? Halah kok ketemu missing link lagi? Sudah mulai bisa merasakan, tapi tetap tak ‘terindra’. Duh…duh…miss ing link, miss ing link…

Posted in ide

Tags:

Permalink Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tentang

Senang menulis, cinta dunia anak. Dan ini diary kepenulisan saya.

salam,
echa

Masukkan alamat e-mail Anda untuk mengikuti blog ini via e-mail. Terima kasih.

Kategori

Arsip

%d bloggers like this: