Mulai Menulis “Si Pemalu Penyuka Theater”

Si ide kemarin masih ribut juga. Tiba-tiba aku teringat salah satu group yang aku ikuti di Facebook: group Komunitas Penulis Bacaan Anak (Paberland). Di sana, ada Jum’at Panas. Setiap Jum’at, 4 member boleh memposting cerpen karyanya untuk ‘dibantai’. Ah, aku mau juga menggunakan kesempatan itu untuk belajar.

Tapi ide mana yang akan kutuangkan duluan. Kandidat terkuatku adalah tentang burung yang bahannya sudah kuriset dan tentang Si Pemalu Penyuka Theater. Akhirnya aku pilih yang belakangan karena sudah lebih terbayang alurnya. Dan aku bertekad akan menyelesaikannya sebelum hari Jum’at mendatang.

Kebetulan pagi ini aku harus menunggui mobil diperiksa di bengkel. Tempatnya cukup terpencil jauh dari rumah. Padahal kata yang punya bengkel, pemeriksaan akan memakan waktu paling tidak 2,5 jam! Ada waktu nganggur.

Untunglah dekat situ ada sebuah cafe yang cukup besar dan sudah buka sejak pukul 7. Di sana aku segera memesan coklat hangat dan sebuah croissant. Kukeluarkan laptop dan mulai menulis. Aku menulis sesuai keributan di kepalaku saat itu. Aku akan mulai dengan bab pembukaan dimana aku akan mengenalkan tokoh utama ceritaku dengan lebih detil. Aku menuliskan apa yang saat itu terlintas di kepalaku. Sering aku merasa ceritaku masih menimbulkan banyak pertanyaan, banyak ‘bolongnya’. Jadi kutambahkan ‘jawaban’nya. Begitu terus, yang pada akhirnya membuat ceritaku lebih detil tapi juga rumit dan berbelit. Kusadari ini tapi aku belum tau bagaimana mengatasinya.

“Ah, tulis saja dulu deh. Edit belakangan.  Ntar keburu idenya hilang”, gitu pikirku.

Setelah beberapa paragraf, baru kuedit. Aku sempat bingung membacanya. Karena sepertinya apa yang sudah kutulis itu tak cocok untuk cerpen. Gimana dong?

“Ah, tulis saja dulu deh. Edit belakangan.  Ntar keburu idenya hilang”, lagi-lagi pikiran itu muncul.

Tapi belum lama aku melanjutkan mengetik, batere laptop habis. Padahal aku masih harus menunggu 1,5 jam-an lagi. Berhubung tidak ada alternatif lain untuk menyalakan laptop itu, aku beralih kegiatan. Kali ini kukeluarkan “Der kleine Mann” nya Erich Kaestner yang belum selesai kubaca. Dan setengah jam sebelum waktu kembali ke bengkel aku keluarkan Kindle dan melanjutkan bacaanku The Mistical Dimensions of Islam– nya Annemarie Schimmel.

Sampai rumah, setiap ada kesempatan kucoba melanjutkan tulisanku. Sampai malam ini, tulisan itu belum selesai. Bahkan aku belum tau apakah nanti akan jadi cerpen atau yang lain atau malah tak berbentuk:-(

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tentang

Senang menulis, cinta dunia anak. Dan ini diary kepenulisan saya.

salam,
echa

Masukkan alamat e-mail Anda untuk mengikuti blog ini via e-mail. Terima kasih.

Kategori

Arsip

%d bloggers like this: