Cerpen Pertamaku di “Kursi Panas” Paberland

Jum’at panas-nya Paberland selalu jadi rebutan. Siapa cepat dia dapat. Lagipula waktunya kurang menguntungkanku yang tinggal 6 jam di belakang Indonesia. Jadi aku harus mengejar posting cerpen ku tepat ketika hari Jum’at dimulai di Indoenesia.

Itu kalau aku masih mau menjadikan tulisanku ini cerpen. Dan memang itulah akhirnya yang kuputuskan. Aku ingin mengetahui status kemampuan menulisku saat ini. “Jum’at Panas Paberland” hitung-hitung seperti placement test menulisku.

Aku terus mengotak-atik tulisanku. Tingkah polah Rangga dan Masha saat berusia lima tahun, dan teman-temannya juga anak-anak Netz fuer Kinder waktu aku masih suka membantu di sana berkelebat, ‘kupanggil’ bolak-balik agar penggambaran tokoh utama ceritaku bisa senyata mungkin.

Aku kesusahan mencari kata yang pas juga sinonim agar tak menggunakan kata itu-itu saja. Sampai kalau ada teman Indonesia yang menelpon, aku tanya ke mereka:-) Aturan huruf besar dan EYD secara umum juga aku masih bingung. Tapi aku tak punya kamus dan buku EYD? Sudah kuputuskan setelah tulisanku ini selesai aku akan bertanya pada Mbak Eva Nukman yang kutahu sudah lama bergaul dengan kamus dan EYD.

Menjelang tengah malam, tulisanku hampir selesai. Tapi kayaknya kepanjangan. Aku googling syarat pengiriman cerpen ke majalan di Indonesia: 600 – 700 kata. Kuhitung punyaku: hampir 900 kata! Alamak, bagaimana ini?

Otak-atik lagi, otak atik lagi. Mentok-mentok 700 sekian kata, hampir 800! Tapi tak tau apa lagi yang harus kukurangi. Mentok. Ya sudahlah. Kupikir sudah bisa dianggap selesai. Tinggal judulnya. Aduh, apa ya judulnya? Mesti deh, mati gaya! Aku selalu kesulitan memberi judul. Boro-boro ada alternatif judul yang terbayang, satu pun tak ada. Setelah mengetuk-ngetuk jari, akhirnya kukasih judul “Permainan Peran Dani”. Ada lega juga udah selesai, mesti kutau masih jauh sekali dari sempurna. Kulihat di wall Paberland sudah ada yang memposting cerpen untuk Jum’at panas. Wah, udah mulai nih. Kebagian nggak ya? Aku cepat-cepat memosting punyaku seperti di bawah ini:

*************************************************************

Permainan Peran Dani

oleh: Ellyza Dian Satriana 

Dani adalah anak laki-laki berusia 5 tahun. Rambutnya lurus, matanya sayu, dan senyumnya malu-malu. Tampak seperti anak yang pemalu bukan? Memang benar. Paling tidak hampir benar. Karena masih ada satu hal yang tak malu-malu dilakukan Dani, yaitu bermain peran. Ia senang bermain þeran. Sangat senang sekali. Di Kindergarten, pojok peran adalah tempat favoritnya. Begitu juga di rumah.

Bermain peran itu seru, demikian menurut Dani. Sebagai apapun itu. Ia pernah berperan sebagai polisi hutan tropis, juru masak raja hutan, tukang sihir, perampok, perompak, kucing keriting, ikan sebelah, kuman, bunga bangkai, petugas pemadam kebakaran, pelayan supermarket di bulan, vampir, dan lain-lain. Tapi yang paling ia suka adalah menjadi ksatria. Seperti sore ini.

Dengan rompi dari anyaman serupa kawat halus keperakan, jubah keemasan yang berkibar berkilauan, helm berjambul merah, serta perisai dan pedang panjang, ia merasa gagah. Tapi, mana putri yang harus diselamatkannya? Ah, Rosi tentu cocok menjadi putri, pikir Dani. Ia berlari mengambil sebuah mahkota lalu menyematkan di kepala adiknya yang baru bisa merangkak itu. Tapi Rosi langsung menariknya dari kepala. Ia amati sebentar lalu mulai memasukkan ke mulutnya.

“Jangan, Rosi!”, cegah Dani.

“Kamu harus pakai mahkotanya. Putri kan pakai mahkota. Jangan ditarik ya?”, bujuk Dani sambil menyematkan kembali mahkota ke kepala Rosi.

Tapi, lagi-lagi Rosi menurunkan mahkota itu. Ia ingin tau apa yang ada di kepalanya. Dan terlebih lagi, ia tak suka ada sesuatu di atas kepalanya.

“Baiklah, tidak usah pakai mahkota saja. Mahkotanya disembunyikan saja biar tidak diambil nenek sihir ya?”, putus Dani akhirnya, seraya meletakkan mahkota itu di bawah bantal.

“Tapi kamu sekarang jadi putri. Okey, Rosi?”

Rosi tentu belum mengerti apa yang dikatakan kakaknya. Tapi ia tertawa. Mungkin dia merasa yang mereka lakukan itu akan menyenangkan. Mata mungilnya mengikuti gerak Dani yang kini sedang mendorong kereta main ke arahnya.

“Sekarang kamu masuk ke sana ya.”, perintah Dani sambil mencoba menggendong adiknya persis ke depan celah masuk kereta main.

“Ayo, Rosi, masuk. Ayo…ayo….”, ulang Dani tak sabar sambil menunjuk ke celah masuk.

Seolah mengerti, Rosi merangkak masuk ke dalam kereta main. Kereta itu berbentuk seperti kotak besar, beralas matras tipis, berkandang jeruji dari kayu. Jarak antar jeruji kurang dari lebar badan bayi, kecuali di celah masuknya .

Sampai di tengah, Rosi berbalik, lalu duduk menghadap Dani. Matanya masih tak lepas dari kakaknya, seolah menanti perintah selanjutnya.

“Bagus, Rosi! Sekarang jangan ke mana-mana. Kamu sedang di dalam penjara nya Nenek Sihir. Mengerti, Rosi? Oh ya, aku harus panggil kamu Putri Rosi. Kamu kan sekarang putri! ”

Rosi, eh, Putri Rosi kembali tertawa menanggapi kakaknya itu.

Dani menghilang sejenak lalu kembali, menggandeng Mama.

“Ayo, Ma. Mama ambil kostum penyihir di pojok peran. Mama jadi nenek sihir yang menculik Putri Rosi.”

Ini bukan kali pertama Mama ditodong ikut bermain peran oleh Dani. Jadi Mama sudah paham maksud perintah Dani itu. Mama pun mulai membongkar tumpukan kostum di dalam sebuah peti di pojok peran. Tak lama kemudian, Mama terlihat mengenakan rok hitam penuh sobekan dan jubah hitam lebar yang menjuntai sampai ke lantai terikat di leher. Mama juga mengacak-acak rambut panjangnya. Dan dengan membungkuk berpegangan pada sebuah tongkat, ia terkekeh seram menirukan nenek sihir di film-film. Dani tertawa, puas dengan unjuk peran Mama.

“Tapi, wajah Mama tidak seram seperti nenek sihir!”, protes Dani. “Kenapa Mama tidak memasang ompong palsu dan mencoret wajah Mama penuh kerut dan kutil supaya seram?”, usul Dani.

“Nanti Rosi takut.”, tanggap Mama.

Dani terdiam. Ia tetap mau Mama terlihat seram. Masak nenek sihir tidak seram? Tapi bagaimana kalau Rosi menangis ketakutan? Siapa yang akan menjadi putri?

Akhirnya Dani setuju.

Permainan peran pun dimulai.

“Glup…glup…glup…”, terdengar suara dari arah pintu. Itulah suara kuda karet merah yang ditunggangi Ksatria Dani. Kuda berhenti di dekat kereta main.

“Nenek Sihir, ayo keluar!”, teriak Ksatria Dani.

“Hihihihiihihihi….Siapa itu?! Berani-berani memerintahku!”, lengking Nenek Sihir sambil mendelikkan matanya.

Ksatria Dani turun dari kuda dan berdiri mengangkang dengan gagak lalu menarik pedang dari sarungnya.

“Namaku Ksatria Dani. Lepaskan Putri Rosi sekarang juga. Ayo lepaskan!”, teriak Ksatria Dani semakin lantang sambil menghunuskan pedangnya.

“Hihihihihihi….berani sekali kau mengancamku!”, delik Nenek Sihir semakin tajam.

“Ayo lepaskan! Kalau tidak, kau akan berurusan denganku!”, tantang Ksatria Dani lagi.

“Hihihihhi…lepaskan sendiri Putri Rosi kalau kau berani! Bersiaplah melewati jeruji kayu yang akan kusihir menjadi ular…hihihihi….. Pedangmu tak akan berguna. Ular itu akan tumbuh lagi bila kau menebasnya..hihihihihihihi…….Merem melek ngantuk ngiler, menjelmalah kayu menjadi u…”

Belum selesai Nenek Sihir membacakan mantra, Ksatria Dani sudah menghunuskan pedang ke perut Nenek Sihir.

“Hiihihihi…hahahahaha…hihihi…haha….”, Nenek Sihir tertawa kegelian. Gelitikan pedang plastik ternyata lebih geli daripada jemari.

“Ampun…hihhi…Ampun Ksatria Dani hahaha hihihi….silahkan ambil Putri Rosi hihihihi hahahaha..”

Mendengar itu Ksatria Dani tersenyum bangga. Ia acungkan pedangnya ke langit sambil berteriak,

“Yeah! Berhasil!”

Kemudian ia menghampiri Putri Rosi.

“Putri Rosi, sekarang kamu selamat. Nenek Sihirnya sudah menyerah.”, ujarnya sambil tersenyum.

Rosi yang sejak tadi terpaku dan hampir menangis karena kaget mendengar teriakan Mama dan Dani, jadi benar-benar menangis. Tapi Dani tak khawatir. Ia sudah punya ide bagaimana menenangkan adiknya. Ia akan berperan menjadi kucing, binatang kesayangan Rosi.

************************************************

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tentang

Senang menulis, cinta dunia anak. Dan ini diary kepenulisan saya.

salam,
echa

Masukkan alamat e-mail Anda untuk mengikuti blog ini via e-mail. Terima kasih.

Kategori

Arsip

%d bloggers like this: