Masukan dari Para Paber

Setelah posting di Paberland, aku menunggu respon sambil nge-blog dan bersiap tidur. Selesai bersiap, ada jempol, tapi belum ada komentar. Aku penasaran, tapi juga ngantuk. Jadi kutinggal tidur saja.

Paginya, begitu ada kesempatan menyalakan komputer, aku login ke Paberland. Sudah ada beberapa respon. Lalu ku respon balik. Kemudian muncul respon lagi. Inti respon yang jadi bahan pelajaranku adalah:

– logika cerita
– kesesuaian bahasa dan usia pembaca
– konflik kurang jelas
– pembukaan yang terlalu panjang dan membosankan
– penggambaran karakter tokoh utama yang kurang kuat
– EYD
– pemilihan judul
– pengulangan kata

Ya, itulah hasil placement test ku. Panjang sekali daftarnya. Ini sih semua aspek masih kacau. Sempat kecut juga dibuatnya. Benar dugaanku kalau aku masih kelas “0”. Terbayang banyaknya yang harus diperbaiki.

Tapi Insya Allah keinginan belajar masih lebih besar. Apalagi aku tau ini baru mulai. Wajar kalau daftarnya panjang. Aku malah bersyukur dapat bantuan belajar (Terima kasih, dear Pabers). Aku jadi merasa ada teman. Paling tidak ada yang ‘bersorak’ menyemangati:-). Insya Allah akan aku pelajari satu per satu dan perbaiki naskahnya.

Dan inilah kutipan respon Pabers:

“masih terlalu ‘dewasa’ ^_^. Si Sulung saya masuk 5 tahun bulan Maret ini, di PAUD sejak umur dua tahun kurang, kalau bermain peran dengan adiknya ( masih belum ada dua tahun) sederhana dan lebih banyak aksi seperti kejar-kejaran.”

“Cerita ini memang hanya menceritakan tentang permainan peran, terus the end ya? Nggak ada konflik?
Setau saya, biasanya tiap cerita ada opening, konflik, dan ending. 
Tadinya saya kira, Rosi bakal terjepit di kotak kayu itu. Tapi ternyata tidak🙂
1. sangat senang sekali –> boros
2. anak umur 5 thn dan bayi merangkak bermain tanpa ibunya? (ibunya datang terakhir kan, setelah dipanggil Dani?)”

“Paragraf pertama penuh dengan kata “malu”. Bukan nggak boleh lho ya, nulis kata yang sama dalam satu paragraf berkali-kali. Bisa, bahkan jadi asyik, kalau penempatannya tepat :)”

“ga tinggal di Indonesia ya? Judul dan kalimat pembuka seperti ini (Dani adalah…) lazim di cernak berbahasa Inggris atau (mungkin) bahasa lain, tapi dalam Bhs Indonesia terdengar monoton, hehe :p Soal pemalu, bagaimana ini bisa disimpulkan dari senyum yang malu-malu? (Btw, senyum malu-malu itu gimana sih? Yang ga keliatan giginya?) 

Seandainya begini: Dani selalu berbicara dengan suara pelan. Di sekolah, teman-teman hampir tak pernah mendengar suara Dani. Dia menyanyi dengan suara lirih. Tertawanya hampir tak terdengar. Hanya dalam satu hal dia berteriak lantang. Ya, Dani paling suka bermain peran!

Contoh aja, kayaknya labelling lebih terbayang kalau digambarkan dng perilaku.

Judul juga perlu direvisi mbak”

“Yup, sebagai cerpen ini terlalu datar. Kayaknya cerita Echa ini lebih cocok untuk picture book deh. Jadi, didukung ilustrasi, dan dengan pembaca target adalah anak usia TK ke bawah, konfliknya cukup ringan saja. Kayak buku Ein Geschenk für Oma karya Gunilla Hansson. (Tentu banyak buku lain, tapi buku ini yang ndilalah teringat sekarang). 

Trus, jangan lupa tanda baca, EYD😉

– tahu, bukan tau
– dalam dialog, koma diletakkan sebelum tanda kutip penutup. 
Jadi, yang benar: …,” 
bukan: …”, 
– jika di akhir kalimat dialog sudah ada tanda tanya atau tanda seru, atau titik, koma tidak diperlukan lagi. 
Jadi, yang benar: …!” atau …?” 
bukan: …”,

“Iya, kayaknya asyik deh jadi pic book. Kata-katanya irit aja. Imajinasi selama permainan peran itu yg ditonjolkan. Di bagian akhir baru pembaca diberi tahu bahwa itu adalah permainan peran.”

“perasaan kok penyebutan nama-nama benda banyak amat ya”

“Setuju dijadikan picbook”

“Wow! ceritanya seru lho. Aku bacakan untuk anakku. Kupotong paragraf awal dan akhir. Pembacaan dimulai dari >> “Glup…glup…glup…”, terdengar suara dari arah pintu…” 
> dan diakhiri pada >> …Nenek Sihirnya sudah menyerah.”, ujarnya sambil tersenyum.
Judulnya disesuaikan dikit menjadi “Dani Ksatria Pemberani”
Responnya bagus, anakku ikut tegang tapi kadang juga ikut ketawa, mengikuti jalan ceritanya sampai akhir.”

“Menulis judul cernak itu : 
seperti menyanyikan kata yang tersisa, 
atau menghias kado dengan sehelai pita”

” openignya kepanjangan. Eh, anak 5 tahun bermain perannya kompleks banget ya … gmn kalau alurnya lebih smoot lagi, jadi kita bacanya nggak sepengal-sepenggal. Ini jadi kaya naskah drama anak-anak di sekolah.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tentang

Senang menulis, cinta dunia anak. Dan ini diary kepenulisan saya.

salam,
echa

Masukkan alamat e-mail Anda untuk mengikuti blog ini via e-mail. Terima kasih.

Kategori

Arsip

%d bloggers like this: