Judul a la “Der kleine Mann” Erich Kaestner

Kesulitan membuat judul tulisan mengingatkanku pada sebuh novel anak karya Erich Kaestner berjudul “Der kleine Mann (The Little Man / Lelaki Cilik)“. Pemberian judul di novak ini agak lain.

“Der kleine Mann” terdiri dari 22 bab. Tapi tak ada judul untuk tiap bab itu. Judulnya ya: Bab Pertama, Bab Kedua, dst, sampai Bab Kedua puluh dua. Lalu di bawah judul bab itu, Kaestner menuliskan pokok-pokok pikiran di bab bersangkutan sesuai urutan penulisannya.

Misalnya:

_________________________________________________________

DAS ERSTE KAPITEL

Meine erste Begegnung mit dem kleinen Mann / Pichelstein und die Pichelsteiner / Maexchens Eltern wandern aus / Wu Fu und Tschin Tschin / Geburtsort: Stockholm / Vom Eiffelturm geweht / Zwei Chinesenszoepfe werden begraben / Professor Jokus von Pokus haelt eine schoene Rede.

__________________________________________________________

terjemahan bebasnya:

__________________________________________________________

BAB PERTAMA

Pertemuan pertamaku dengan Lelaki Cilik / Pichelstein dan orang Pichelstein / Orang tua Maexchen merantau / Wu Fu dan Tschin Tschin / Tempat lahir: Stockholm / Tertiup dari menara Eiffel / Dua kepang cina akan dikuburkan / Pidato indah Professor Jokus von Pokus.

___________________________________________________________

Kesan pertamaku waktu membaca ini: wah tidak ada judul bab! Bisa juga ya berarti bab tak pakai judul. Asyik atuh, tak perlu pusying mikirin judul. Pokok pikiran lebih mudah menuliskannya. Eh, jangan-jangan waktu itu Erich Kaestner memang lagi pusing menuliskan judul, makanya dia ambil cara begini.

Sayang tidak kutemukan sumber yang membenarkan tengaraiku pada Kaestner itu:-). Ingin tahu saja…mungkinkah Kaestner pun pernah ‘menyerah’ dengan urusan judul. Lebih memilih jalan ini daripada ‘maksa’ memberi judul tapi tak memuaskan? Atau memang dia sengaja memberi alternatif lain dari yang selama ini umum dilakukan, baik sekedar memberi alternatif melawan kebosanan, ataupun sebagai penyodoran alternatif yang menurutnya lebih baik dilakukan? Anyway, kalau aku penulis, boleh juga alternatif satu ini dilakukan:-)

Lalu kuperhatikan pokok-pokok pikiran di bawah judul bab itu. Baru “terlihat”nya setelah selesai membaca bab bersangkutan. Maksudku, ketika membacanya untuk pertama kali aku masih susah membayangkan bakal seperti apa ceritanya nanti. Alih-alih, dari situ, di pikiranku malah terbit cerita bayanganku sendiri:-).

Setelah membaca itu pula aku jadi ingin lebih detil lagi membaca buku ini untuk melihat bagaimana Kaestner membuat ‘sambungan’ antar pokok pikiran yang mulus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tentang

Senang menulis, cinta dunia anak. Dan ini diary kepenulisan saya.

salam,
echa

Masukkan alamat e-mail Anda untuk mengikuti blog ini via e-mail. Terima kasih.

Kategori

Arsip

%d bloggers like this: