Flaschenpost

Barusan di forum schreibwerkstatt.de  (SW) aku melihat-lihat list posting cerpen anak. Dan berhenti di cerpen yang berjudul “Flaschenpost (surat dalam botol)”.  Sebuah tema yang termasuk paling sering diangkat dalam cerita anak Jerman. Kupilih judul itu karena iseng saja, teringat sesuatu. Untuk pengantar tidur anak-anak malam ini aku membacakan buku kumpulan cerpen Cornelia Funke yang salah satunya berjudul sama dengan cerpen itu.

Tapi setelah membaca cerpen yang di SW itu aku merasa kurang menikmati. Meski menurutku sudah cukup bagus. Entahlah..Menurutku, idenya cukup seru. Penceritaannya juga runut. Tapi rasanya kalimatnya masih kurang efektif. Jalinannya masih kurang indah. Jalan ceritanya klise.

Pikiranku otomatis membandingkannya dengan dengan karya Cornelia Funke tadi. Terasa lebih terang. Sederhana, tak terlalu ‘riuh/heboh’, tapi elegan. Entahlah aku tak bisa juga mendeskripsikannya dengan tepat. Yang jelas rasanya beda.

Apa ya yang membuat karya Funke bisa terasa lebih nikmat dibaca dibandingkan yang di SW? Apa itu juga yang menyebabkan Funke menjadi penulis yang sukses?

Pembukaan, keduanya mirip: seorang anak yang lagi main di pantai menemukan Flaschenpost. Tapi cerita saat sebelum dan sesudah penemuan itu, yg di schreibwerkstatt terasa riuh dan heboh. Penemuan itu sebuah hal yang besar. Si anak memberitahukannya ke semua orang dan menjadi berita besar. Sedangkan karya Funke adem-adem saja. Si anak, tanpa memberitahu siapapun, membuka botol dan membaca isinya lalu menelusurinya. Begitu juga dengan penyelesaian ‘konflik’ dan penutupnya. Tak menggebu2, sederhana saja.

Deskripsi dan narasinya sepertinya beda juga. Funke lebih sederhana, tak sedetil yang di SW tapi tak terasa kurang. Funke juga banyak menyiratkan tentang setting di antara kalimat. Jadi setting tidak dideskripsikan khusus dan detil. Misalnya pantai yang ramai di SW ditulis khusus, sedangkan Funke menggambarkannya dengan menuliskan kesulitan anak penemu botol mencari petunjuk di antara gelimpangan ‘perut’ (orang yang berjemur di pantai). Banyak hal yang tak gamblang dituliskan detil oleh Funke. Tapi  bisa kita tau dari jalinan kalimat-kalimatnya. Satu clue di sana, clue lain lagi di sini, dst. Kesannya kompak tapi bernas gitu.

Hmmm….gimana caranya supaya bisa nulis kayak Funke ya? Bukan sekedar menulis tapi sudah masuk seni, seni menulis:-D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tentang

Senang menulis, cinta dunia anak. Dan ini diary kepenulisan saya.

salam,
echa

Masukkan alamat e-mail Anda untuk mengikuti blog ini via e-mail. Terima kasih.

Kategori

Arsip

%d bloggers like this: