Pengaruh Usia dalam Logika Cerita dan Pemilihan Bahasa

Salah satu masukan dari Pabers mengatakan kalau cerpenku masih terlalu ‘dewasa’. Memang aku masih suram urusan ukuran usia ini. Ternyata tidak sesederhana yang kubayangkan, karena cukup relatif juga tampaknya. Kemampuan anak di suatu umur rentangnya bisa cukup lebar. Kemampuan rata-rata pun ternyata susah mengukurnya. Kalau kita misalkan punya tokoh cerita usia X tahun. Apakah sebaiknya kita mengambil ‘standar terendah’ untuk mengakomodasi semua rentang kemampuan atau bagaimana? Aku jadi ingat karya Lindgren berjudul “Emil of Lönnaberga”. Di versi buku ditulis Emil adalah anak usia 5 tahun. Tapi, di versi film nya diubah. Emil jadi usia 7 atau 8 tahun (saya lupa persisnya). Memang melihat kelakuan Emil di cerita itu, wuiih…nggak mungkin anak 5 tahun secanggih itu. Apalagi cerita Emil adalah cerita keseharian, bukan fantasi yg ada magic atau superlatif gitu. Tapi kenapa cerita itu ‘lolos’ dan terkenal? Ada kah sisi lain yang jadi pertimbangan?

Demikian kebingunganku. Supaya segera ada titik terang, aku tanya lagi di Paberland. Di situ aku mendapat sundulan link artikel dari Mbak Ary Nilandari (terima kasih, Mbak). Judulnya: When the Guidelines Say “7-12”: The Ages and Stages of Children’s Literature.

Setelah membaca itu, ternyata ada dua hal berkenaan dengan usia yang sebenarnya aku masih bingung, yaitu,

  1. tingkat kemampuan tokoh cerita
  2. tingkat kemampuan pembaca.

Poin 1, lebih berkaitan dengan logika cerita. Seperti karya Lindgrens itu, Emil anak 5 tahun tapi kemampuannya jauh di atas anak seusinya. Atau Pippi Longstocking yang anak-anak tapi sudah tinggal sendiri dan bisa mengurus diri sendiri. Sepertinya batasan di sini lebih longgar, asal logika ceritanya konsisten tak apa tak sesuai realitas kemampuan anak umur segitu.

Sedangkan poin 2 lebih ke bagaimana menulis hingga bisa dibaca anak umur target. Dan ini yg dibahas di link tersebut. Yang harus diperhatikan dalam hal ini adalah:

“Not only must you create an engaging storyline and interesting characters, you have to take the comprehension and literacy abilities of young readers into account.”. Plus mengetahui juga tahap perkembangan anak.

Tapi pada akhirnya, tetap saja ketika tulisan itu akan kita kirim ke penerbit atau media, maka seperti yang sering disharing di forum penulisan anak:
“As with all generalizations, individual developmental differences can vary widely. Some children’s publications target a specific developmental range within a given age span. Markets like Aquila gear their content towards more gifted readers, others, like Our Little Friend and Primary Treasure (which state in their guidelines the editorial philosophy that “children are not growing into better readers . . . Stories that today’s adults read as children are too difficult for many children today,” [10]) are undoubtedly seeking easier material. Writers need to study submission guidelines and read the publications they want to write for.

Di sharingnya Mbak Ary Nilandari menambahkan,

“Pada dasarnya, kita seperti konduktor, mengarahkan semua unsur fiksi: karakter dan karakterisasi, plot dan logika cerita, konflik dan penyelesaian, pemilihan sudut pandang, narasi, dialog, deskripsi, untuk menghasilkan lagu merdu dan harmonis. Salah satu fals, biasanya tidak masalah selama unsur yang lain menutupi kekurangan.

Tapi jika terlalu banyak unsur kedodoran: misalnya logika cerita diabaikan, deskripsi tak masuk akal, dialog tidak alami, karakter tidak kuat, dst. Pasti deh mengundang protes pembaca.
Fiksi juga seperti anyaman, tak boleh ada loose ends. Pembaca akan melihatnya dan tidak puas.

Ketika lagu kita enak didengar, anyaman kita rapi, mau tokohnya anak umur berapa pun dengan tingkah seaneh apa pun, dengan cerita semustahil apa pun, pembaca akan suka.

Siip deh, Kakak Guru. Sekarang Adik Murid tak bingung lagi (teorinya…) hehehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tentang

Senang menulis, cinta dunia anak. Dan ini diary kepenulisan saya.

salam,
echa

Masukkan alamat e-mail Anda untuk mengikuti blog ini via e-mail. Terima kasih.

Kategori

Arsip

%d bloggers like this: