Bedah Karya Cornelia Funke

Sudah kuputuskan untuk konsentrasi belajar menulis cerpen saja dulu. Dan berfokus pada menceritakan kembali sesuatu. Faktor imajinasi dan bumbu-bumbu belakangan. Rasanya itu step yang tak terlalu muluk untuk kulakukan. Kupikir, dengan menceritakan kembali suatu peristiwa atau bacaan atau tontonan, aku lebih fokus pada urusan kalimat, logika cerita, susunan kalimat dan hal dasar lainnya.

Dan sudah kuputuskan pula untuk “studi kasus”nya akan kuambil dari karya-karya Cornelia Funke.

Aku sudah sering membaca karya Funke. Tapi baru terakhir-terakhir ini baru lebih kuperhatikan isinya. Ya karena keperluan belajar menulisku. Bagiku karyanya memang tergolong seni menulis. Dan sejak di Jerman aku sudah sering mendengar, membaca, dan menonton liputan tentang Funke. Dan untuk keperluan belajar juga sepagian ini aku mencoba ‘mengenal’ lagi Funke dari berbagai tulisan dan situs fans nya. Memang beda rasanya kalau membaca dengan tujuan tertentu, bukan sekedar membaca bak membaca berita. So, sekarang tinggal ‘bergerak’.

Tadi sepulang terapi alergi polen dan ke toko asia (horee akhirnya aku punya cabe untuk membuat cuko pempek!:-), aku mampir ke perpustakaan. Sebetulnya waktunya mepet, karena 20 menit kemudian aku sudah harus ada di sekolah Rangga. Pengalaman selama ini, 20 menit di perpustakaan adalah mustahil. Tapi kucoba saja.

Untuk mempersingkat waktu, aku minta bantuan pada petugas di bagian perpustakaan anak. Kubilang aku ingin meminjam buku karya Funke yang berupa cerita pendek. Si Petugas langsung memasukkan data ke komputer dan keluarlah daftar panjang. Sayang di sayang, bukunya banyak yang sedang dipinjam, huhuhu…Akhirnya aku putuskan meminjam semua buku Funke (terserah cerpen atau bukan) yang sedang tersedia.

Setelah menuliskan judul dan nomor raknya, Petugas itu mulai mencarinya satu per satu. Dalam sekejap sudah siaplah keenam buku yang ada itu. Buku-buku inilah yang nantinya harus kulahap dan ‘bedah’:

  • Strandgeschichten
  • Dicke Freundinnen und der Pferdedieb
  • Das Piratenschwein
  • Kein Keks für Kobolde
  • Rittergeschichten
  • Krötengift und Hexenspucke

Mudah-mudahan ada hasilnya:-)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tentang

Senang menulis, cinta dunia anak. Dan ini diary kepenulisan saya.

salam,
echa

Masukkan alamat e-mail Anda untuk mengikuti blog ini via e-mail. Terima kasih.

Kategori

Arsip

%d bloggers like this: