Ksatria Dani Pemberani (Revisi Cerpen)

Setelah mendapat masukan dari Paberland, aku revisi cerpenku itu. Waktu yang kuhabiskan untuk merevisi tak lebih singkat daripada membuatnya. Aku masih fokus pada cara menceritakan kembali. Belum terlalu eksplor fantasi, hal yang tak klise, dll.

Pengantar dan penutupnya entah berapa kali kuubah pokok pikirannya, susunan kalimatnya, urutan paragrafnya, dst. Bongkar pasang tak terhitung kalinya. Memang masih kesulitan besar bagiku untuk menjalin cerita.

Membuat penutupnya paling memakan waktu. Di tengah menulis aku bingung lagi mana yang mau kutekankan:-( Tadinya aku ingin menonjolkan peran Mama sebagai penyelamat. Masalah Dani sudah jelas, plus untuk penekanan kutambahi sedikit masalah Rosi. Jadi endingnya Rosi yang kaget mendengar teriakan Mama dan Dani menangis lalu ‘diselamatkan’ Mama. Dengan ini rasanya cerita jadi lebih terasa ada pesannya. Lalu sempat kuganti menonjolkan keinginan untuk mencoba dulu baru menilai. Tapi ini terlalu mengada-ada. Kejauhan dengan ceritanya. Setelah bolak balik bingung, akhirnya kuputuskan jadi seperti sekarang. Sesuai judul yang sudah lebih dulu kutulis. Jadi konfliknya hanya bagaimana mengobati kekecewaan Dani karena Harry tidak jadi datang. Pesan lebih soft tersuratnya. Konsekuensinya cerita terasa lebih datar. Tapi rasanya cukuplah untuk anak sekitar usia TK akhir dan awal SD.

Untuk deskripsi, beberapa kali aku bercermin, mempraktekkan ekspresi anak kesal yang sering kulihat. Tapi menuliskannya tetap saja kesulitan. Aku masih tak puas.

EYD yang banyak kupelajari di sini adalah tentang tanda elipsis. Yes, sekarang paling nggak, aku sudah tau penggunaan tanda itu. Karena memang banyak sekali dipakai dalam percakapan di cerpen ini. Ada satu lagi yang kucoba praktekkan tapi masih suka bingung: kata sapaan. Nenek Sihir atau nenek sihir, mama atau Mama, dst.

Kosakata yang baru kutahu dan kupakai di cerpen ini adalah “menderam”. Tadinya aku pakai “mengaum”. Tapi itu kan untuk singa atau harimau. Aku coba cari persamaan katanya di Kateglo, ada menderam yang artinya pas dengan yang kumaksud.

Kata “sesenggukan”, aku masih ragu. Apakah itu bahasa Indonesia baku atau bukan. Di KBBI dan Kateglo tidak ada. Di kamusbesar.com, itu bahasa Jawa. Mau menggunakan tersedu sedan, aku merasa kurang sreg. Efek suara sesenggukannya itu perasaan lain ya dengan tersedu sedan. Mungkin aku salah, tapi aku belum tau harus mencari tau ke mana. Aku harus tanya dulu. Tapi sementara tetap kupakai sesenggukan.

Lalu “kikik”, ternyata itu juga baku.

Aku juga menggunakan kata “bergeming” yang aku tak yakin dimengerti olehumumnya anak usia sasaran. Tapi rasanya kata ini sering aku baca dan dengar. Jadi aku biarkan saja. Kalaupun anak bertanya, orang di sekitarnya akan bisa menjawab:-).

Begitu juga dengan kata “pupus”. Aku tak yakin kata ini umum digunakan. Aku sempat bingung apakah akan menggantinya dengan “hilang”, “lenyap”, atau “musnah”. Tapi pupus ada kesan berkurangnya. Tidak langsung bersih, nol seperti hilang, lenyap, atau musnah. Dan itu yang kurasa pas untuk ceritaku ini. Jadi tetap kugunakan “pupus”. Kalaupun tak umum, hitung-hitung menambah kosakata pembacanya:-).

Satu lagi: tentang tertawa, bagaimana sebaiknya menuliskannya? Pakai deskripsi saja atau juga kutipan? Kalau kutipan sebaiknya bagaimana? “Hahaha …, hihihihi …,”, begitukah? Berapa kali dan panjang yang pas nya?

Untuk judul, spontan aku tulis “Ksatria Dani Pemberani”. Belakangan baru kusadari sebenarnya yang kumaksud adalah “Dani, Ksatria (yang) Pemberani”. Hmmm… mau pilih yang mana nih? Judul yang terakhir kayaknya sudah ‘sejuta umat’. Lagi pula Dani Pemberani lucu juga sebagai nama lengkap. Tapi berarti harus ada bagian cerita yang kuubah. Oke deh, tak usah diubah saja judulnya. Yak, edit lagi …, huhuhu. Tadinya aku mau menambahkan bagaimana sampai nama Dani Pemberani itu muncul. Tapi manjang-manjangin cerita saja. Anggap saja keluar secara spontan. Toh anak-anak kan sering spontan ngarang-ngarang nama atau syair lagu, dll kala main. Pertanyaan selanjutnya adalah: apakah nama lengkap itu harus kutulis selalu atau satu/beberapa kali saja. Aku putuskan tak usah semua nama Ksatria Dani menggunakan nama lengkapnya. Aku sudah sering menemui hal itu di buku cerita anak-anak. Untuk mengurangi kesan spontan yang mengada-ada, aku sempat mengubah percakapan pengenalan diri itu dengan memberi jeda antara Dani dan Pemberani saat Dani memperkenalkan diri pada Nenek Sihir. Tapi aku ingat lagi betapa seringnya anak-anak itu mengeluarkan ide yang sangat spontan. Mereka bisa berimajinasi cepat. Jadi sangat mungkin, dan itu sering kutemui, tiba-tiba mereka langsung membuat nama secara spontan (yang sering juga lalu ditambah-tambahi semakin panjang semakin ngaco atau dipleset-plesetkan, hehehe).

All in all aku merasa lebih baik dari sebelumnya. Tapi masih jauhsekali dari memuaskan. Meski aku tak tau juga detil apa yang harus keperbaiki. Tepatnya aku tak sanggup lagi menelitinya. Aku sudah bosan mengeditnya. Membaca naskah yang sama berulang kali, untuk hasil yang begitu-begitu saja. Aku sempat nelangsa: untuk naskah biasa begitu saja, aku sudah bingung selangit:-P. Ini juga yang harus mulai kuakrabi.

Kejelian serta kepekaanku akan naskah yang baik juga masih minim. Aku butuh orang lain. Tapi belum tau siapa. Jadi sementara segini dulu. Aku mau refreshing dengan menulis cerita yang lain dulu:-)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tentang

Senang menulis, cinta dunia anak. Dan ini diary kepenulisan saya.

salam,
echa

Masukkan alamat e-mail Anda untuk mengikuti blog ini via e-mail. Terima kasih.

Kategori

Arsip

%d bloggers like this: