Pembukaan Lippels Traum nya Paul Maar

Kebetulan dua buku Paul Maar yang terakhir berurutan saya bacakan untuk anak-anak bertema sama: mimpi. Rangga sampai berkesimpulan kalau Paul Maar hanya menulis cerita tentang mimpi:). Dia sudah lupa seri “Sams” karya Paul Maar yang bertema lain:). Buku sebelumnya yang saya bacakan berjudul “Der verborgene Schatz” dan yang kedua berjudul “Lippels Traum (Mimpi Lippel)”.

Dalam “Lippels Traum”, ada yang baru bagi saya dari sebuah buku anak. Yaitu pembukaannya. Di situ Paul Maar menuliskan bagaimana dia sampai pada ide membuat cerita ini. Pembukaannya itu seperti ini,

*********************

>>Wenn wir jede Nacht das Gleiche träumten, würde es uns genau so beschäftigen wie alles, was wir täglich sehen. Wenn ein  sicher sein könnte, jede Nacht zwölf Stunden lang zu träumen, er sei König, so wäre er ebenso glücklich wie ein König, der jede Nacht zwölf Stunden lang träumte, er sei ein Handwerker.<<

Diese Sätze hat Blaise Pascal geschrieben.
Das war ein Philosoph und Mathematiker, der im 17. Jahrhundert in Frankreich lebte. (Er hat sich zum Beispiel die erste Rechenmaschine ausgedacht.)
Pascal hatte die Gewohnheit, seine Ideen, Gedanken, Einfälle auf kleine Zettel zu schreiben, um sie nicht zu vergessen.
Nach seinem Tod fand man in seiner Wohnung einen ganzen Stapel solcher kreuz und quer beschriebener Papiere. Es war sehr schwierig sie überhaupt zu entziffern.
Aber seine Notizen waren so lesenswert, dass man sie in einem Buch veröffentlichte, das man >>Gedanken<< nannte. (Auf Französisch heißt das >>Pensées<<.)

Als ich die Notiz oben las, stellte ich mir vor, wie es wäre, wenn jemand wirklich jede Nacht vom Gleichen träumte. Könnte der überhaupt noch zwischen Traum und Wirklichkeit unterscheiden? So ist dieses Buch entstanden.

****************

Entah alasan apa yang membuat Maar membuka tentang kelahiran idenya tersebut di bukunya. Tapi dari situ saya tertarik untuk memperhatikan bagaimana sebuah ide terwujud menjadi karya lengkapnya. Bagaimana kira-kira dia berpikir untuk menterjemahkan idenya itu. Seperti apa kira-kira “dialog pertanyaan” di pikiran Maar? Mungkinkah begini?

” Bagaimana kira-kira ya ceritanya supaya sesorang (anak) bisa punya mimpi tentang hal yang sama berulang-ulang? Apa sekiranya latar belakang yang menarik, masuk akal dan pas untuk anak-anak yang bisa membuat seorang anak ‘terpaksa’ bermimpi hal yang sama berhari-hari? Apa kira-kira cerita menarik yang muncul di mimpi anak itu? Bagaimana menghubungkan antara cerita di kehidupan nyata dan mimpi sehingga mendukung hipotesa tentang mimpi tadi? Bagaimana pertukaran mimpi dan kenyataan itu terjadi? Dari kejadian? Nama? Atau? ”

Dan entah sederetan pertanyaan dan alternatif jawaban hingga akhirnya muncul tokoh Lippel yang senang membaca sampai mencuri waktu tidurnya. Lalu ditinggal orang tuanya keluar kota selama seminggu hingga ia harus ditemani Frau Jakob yang karakternya sedemikian yang mengambil buku tentang kisah berlatar belakang orientalis yang baru saja mulai dibaca Lippel hingga membuat Lippel penasaran. Dari keadaan itulah Lippel memimpikan kira-kira seperti apa lanjutan cerita buku tersebut. Kisah petualangan Lippel di negeri orientalis (Morgenland). Namun cerita di mimpinya tersebut tak selesai satu hari. Atas “hint” dari Frau Jeschke si tetangga yang baik hati tentang mimpi bersambung, Lippel pun bisa menyambung cerita di mimpinya  beberapa hari kemudian  hingga ketika orang tuanya pulang cerita itu nyaris selesai. Dan memang akhirnya diselesaikan tidak lewat mimpi, tapi dari usulan Ibu Lippel. Cerita di mimpi dan kenyataan terhubung lewat dua teman baru Lippel yang berlatar belakang oriental. Demikianlah akhirnya jalinan cerita yang mendukung hipotesa Maar yang terpercik dari catatan Pascal itu terbentuk.

Saya sengaja membacakan cerita itu sebagai pengantar tidur anak-anak karena ingin melihat langsung reaksi mereka sebagai sarana ‘mengukur’  cerita dan respon anak. Apakah cerita seperti itu menarik buat mereka? Bagaimana respon mereka di setiap bagian cerita. Bagian mana dan kalimat seperti apa yang membuat mereka tertawa atau berkomentar? Bagaimana pemihakan mereka terhadap tokoh-tokoh cerita?Apakah  mereka bisa menangkap hal-hal tersurat di cerita tersebut. Misalnya apakah mereka juga menangkap saat Lippel tertukar antara yang ada di mimpi dengan yang ada dikenyataannya? Bagaimana respon mereka mendengarkan cerita yang disela antara kisah di mimpi dengan di kenyataan, dua cerita berbeda yang berjalan paralel? Pokoknya selama membacakan saya berusaha membaca dengan ekspresif sambil memasang mata dan telinga  yang berusaha ‘merekam’ setiap respon mereka. Alhasil bukan cuma kerongkongan yang sakit tapi juga ternyata cukup menguras energi:) Yah…namanya juga belajar sih ya:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tentang

Senang menulis, cinta dunia anak. Dan ini diary kepenulisan saya.

salam,
echa

Masukkan alamat e-mail Anda untuk mengikuti blog ini via e-mail. Terima kasih.

Kategori

Arsip

%d bloggers like this: